• Jual Cacing Sutra

    Kami menyediakan Cacing Sutra untuk Pakan Ikan, khususnya bagi peternak lele.

  • Jual Bibit Lele

    Kami juga menyediakan Bibit Lele Sangkuriang dari Indukan BBPBAT Sukabumi. Untuk ukuran larva, 1-2 cm, 5-7 cm, atau Sangkal.

  • Lele Konsumsi

    Kami juga menyediakan Lele Sangkuriang siap Konsumsi.

  • Kolam Terpal untuk Ikan Lele

    Kami juga menyediakan Kolam Terpal berserta perlengkapan untuk pembuatan Kolam Terpal untuk Lele atau Jenis Ikan lainnya.

  • Pakan Ikan Lele

    Dan kami juga menyediakan pakan Ikan Lele bermutu dan organik. Kami meracik pelet tersebut dari bahan-bahan yang organik

Tampilkan postingan dengan label Cacing Sutra. Tampilkan semua postingan

Analisa Usaha Cacing Sutra

0 komentar
Analisa Usaha Cacing Sutra - Sebuah analisis usaha sangatlah penting untuk mengetahui kelayakan suatu usaha apakah  bisa mendapatkan keuntungan yang layak atau tidak. Langkah pertama untuk menganalisa suatu usaha adalah menentukan biaya produksi kemudiabiaya produksi merupakan modal yang harus dikeluarkan untuk melakukan usaha.



Biaya produksi dapat dibedakan antara biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap merupakan biaya yang penggunaanya tidak habis dalam satu musim produksi, sedangkan biaya variable merupakan biaya yang habis dalam satu musim produksi. Analisis finansial sangat dibutuhkan dalam usaha apapun untuk mengetahui tingkat efisiensi, serta tingkat keberhasilan usaha dan layak tidaknya usaha tersebut untuk dijalankan.

Analisa Usaha Cacing Sutra

Usaha budidaya cacing sutra dengan nampan ini sangat menjanjikan. Bayangkan hanya dengan 100 buah dan biaya produksi Rp 3.508.250,-  setahun bisa menghasilkan pendapatan dari penjualan cacing sutra setahun yang mencapai Rp 11.625.000,-.Berarti bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 8.116.750,-/ 1 rangkaian rak. Penghasilan dalam 1 bulan hanya dengan 1 rangkaian rak nampan yang berisi 100 nampan besar adalah Rp 676.396,-

Apabila kita mempunyai 10 rangkaian rak nampan besar maka keuntungan pertahun yang bisa didapat adalah sekitar Rp 81.167.500,-, dan penghasilan/bulannya bisa mencapai Rp 6.763.960,- sebuah penghasilan yang tinggi untuk ukuran sekarang. Apalagi dengan berbudidaya cacing sutra dengan nampan ini tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas dan bisa juga di pekarangan atau sekatan rumah kita.

Berdasarkan nilai pendapatan dan biaya produksi, didapatkan nilai rationya 3,31. R/C rasio tersebut menunjukkan bahwa setiap Rp.1,- biaya yang dikeluarkan untuk usaha budidaya cacing sutra dengan media kolam semen ini akan memperoleh penghasilan Rp. 3,31,-.

Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel analisa usaha cacing sutra dengan menggunakan nampan besar adalah sebagai berikut :


(Jual Cacing Sutra)

Read More »

Reproduksi Cacing Sutra

0 komentar
Reproduksi Cacing Sutra - Cacing Tubifex sp adalah termasuk organisme hermaprodite. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur.



Hasil perkembangbiakannya berupa telur yang dihasilkan oleh cacing yang telah mengalami kematangan sel kelamin betinanya. Telur ini selanjutnya dibuahi oleh kelamin jantan telah matang.(Jual Cacing Sutra)

Read More »

Cacing Tubifex sp

0 komentar
Seputar Cacing Sutra - Termasuk ke dalam pilum Annelida, kelas Oligochaeta, subklas Haplotaksida, famili Tubiidae dan genus Tubifex (Yurisman dan Sukendi, 2003). Ciri umum Cacing Tubifex sp adalah memiliki 2 jenis alat kelamin. Sepasang berupa testes, dan sepasang lagi ovarium yang terbentuk pada segmen X dan XI. Reproduksi umumnya seksual (Brinkhurst dan Pinder, 2000).



Priyambodo dan Wahyu ningsih (2001) menjelaskan bahwa tubuh Cacing Tubifex sp berukuran kecing, ramping, bulat, dan terdiri atas 30-60 segmen. Tubuh Cacing Tubifex sp terdiri dari dua lapisan otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Panjangnya antara 10-30 mm dengan warna tubuh kemerah-merahan. Spesies ini mempunyai saluran pencernaan berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus. Cacing Tubifex sp ini hidup berkoloni, bagian ekornya berada dipermukaan dan berfungsi sebagai alat bernapas dengan cara difusi langsung dari udara.

Sedangkan Departemen Pertanian (1992) menambahkan dari setiap tubuh Cacing Tubifex sp pada bagian punggung dan perut kekar serta ujung bercabang dua tanpa rambut. Sementara sifat hidup Cacing Tubifex sp menunjukan organisme dasar yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti benang kusut dan kepala terkubur serta ekornya melambai-lambai dalam air kemudian bergerak berputar-putar (Chekanovskaya, 1967).

Kemudian dinyatakan oleh Fadholi et al., (2001) menunjukan bahwa cara makan Cacing Tubifex sp yaitu dipermukaan atau didalam sedimen dengan membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel halus dipermukaan. Makanan tersebut dapat berupa bahan organik dan detritus.



Ciri selanjutnya dinyatakan oleh Sarwosari (1992), bahwa Cacing Tubifex sp ini berwarna merah, karena darahnya mengandung pigmen jenis erythrocrourin, salah satu jenis pigmen darah berwarna merah, makanan utama Cacing Tubifex sp adalah alga, diatom serta detritus dari berbagai macam hewan dan tumbuhan tingkat rendah.

Sama seperti Cacing yang lain, spesies Cacing Tubifex sp ini merupakan jenis hermaprodit tetapi untuk mebuahi sel telurnya diperlukan sperma dari cacing lainya dan berkembang biak dengan car bertelur dari betina yang telah matang telur (Supeni et al., 1994).

Telur Cacing Tubifex sp terjadi di dalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bulat telur, panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Telur yang ada di dalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio Cacing Tubifex sp akan keluar dari kokon (Chumadi dan Suprapto, 1986).

Cacing Tubifex sp dewasa dapat menghasilkan kista telurnya yang dapat bertahan dalam kekeringan selam dua minggu dan lebih lama lagi pada daerah pembuangan yang ditutupi oleh sampah (Arkhipova, 1996). Cacing Tubifex sp memiliki oligochaeta yang bergerak dengan kontraksi peristaltik (Seymur, 1969). Kontraksi otot melingkar dan pemanjangan segmen tubuh adalah hal terpenting dalam merangkak berlahan dan selalu menghasilkan tekanan cairan tubuh. Kontraksi otot memajang penting dalam menggali, memperluas galian atau melekatkan diri pada dinding liang yang digali (Barnes, 1974).
Cacing Tubifex sp digunakan sebagai pakan alami untuk benih yang agak besar. Pengertian yang lebih akrab untuk menyebut usaha penyediaan bibit cacing ini adalah Kloning, yaitu penumbuhan cacing dalam klon (bedengan tanah). Namun, untuk menyeragamkan dengan beberapa istilah lain yang telah lazim dipakai, baiklah kita gunakan istilah kultur.

Cacing Tubifex sp sering disebut cacing rambut karena bentuk dan ukurannya seperti rambut. Ukurannya kecil dan ramping, panjang 1-2 cm. Warna tubuhnya kemerah-merahan. Cacing ini termasuk kelompok Nematoda. Tubuhnya beruas-ruas. Cacing Tubifex sp ini memiliki saluran pencernaan. Mulutnya berupa celah kecil, terletak di daerah terminal. Saluran pencernaannya berujung pada anus yang terletak di bagian sub – terminal.

Cacing Tubifex sp banyak hidup di perairan tawar yang airnya jernih dan mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik, makanan utamannya adalah bahan-bahan organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan. Cacing ini akan membenamkan kepalanya ke dalam lumpur untuk mencari makanan. Sementara ujung ekornya akan disembulkan di atas permukaan dasar untuk bernapas. Perairan yang banyak dihuni Cacing Tubifex sp ini sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai.

Cacing Tubifex sp biasanya hidup disaluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan bahan makanan. Cacing Tubifex sp hidupnya berkoloni, bagian ekornya berada di permukaan dan berfungsi sebagai alat bernapas dengan cara difusi langsung dari udara. Cacing Sutra (Tubifex sp) merupakan organisme dasar (benthos) yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti benang kusut dan kepala terkubur serta ekornya melambai-lambai dalam air kemudian bergerak dan berputar-putar.



Cacing Tubifex sp mempunyai ciri-ciri sebagai berikut yaitu: 1). Berwarna merah kecoklatan dengan panjang berkisar antara 10-30 mm, yang terdiri dari 30-60 segmen, 2). Memiliki dinding yang tebal yang terdiri dari dua lapis otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Perkembangannya dapat dilakukan secara pemutusan ruas tubuh dan pembuahan diri (hermaprodit).
Telur cacing Tubifex sp terjadi dalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bulat, panjang 1.0 mm dan diameter 0.7 mm yang dihasilkan oleh kelejar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut klitelum. Cacing Sutera (Tubifex sp) berkembang dan menghasilkan kokon pertama sekali setelah berumur 40-45 hari. Jadi siklus hidup Cacing Sutera (Tubifex sp) dari telur hingga menetas (menjadi dewasa) dan bertelur kembali membutuhkan waktu 50-37 hari.

Cara makan Cacing Sutra (Tubifex sp) golongan tubifidae yaitu permukaan atau di dalam sedimen dengan membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel halus dipermukaan. Makanan tersebut dapat berupa bahan organik dan detritus.(Jual Cacing Sutra)

Read More »

Cacing Sutra untuk Ikan Lele

0 komentar
Cacing Sutra untuk Ikan Lele - Cacing sutra di toko-toko tempat penjualan ikan lele kadang kala kosong, mungkin karena stok di pembudidaya belum ada. Anda jangan khawatir dan pasrah dengan keadaan, cobalah mandiri dan mulailah budidaya cacing sutra dari sekarang.



Budidaya cacing sutra sangat bermanfaat untuk ikan hias, salah satunya ikan cupang. Budidaya cacing sutra sangat mudah dan gampang, tidak repot dalam pemeliharaan, serta pakan cacing yang relatif murah bila anda beli. Budidaya cacing sutra adalah solusi untuk lebih irit biaya dan mudah mendapatkanya ketimbang anda beli yang belum tentu ada. (Jual Cacing Sutra)

Read More »

Cacing Sutra

0 komentar
Cacing sutra (Tubifex), sering juga disebut cacing rambut atau cacing darah merupakan cacing kecil seukuran rambut berwarna kemerahan dengan panjang sekitar 1-3 cm, dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas-ruas. Cacing ini hidup dengan membentuk koloni di perairan jernih yang kaya bahan organik.


Cacing sutra merupakan salah satu alternatif pakan alami yang dapat dipilih untuk memberi makan ikan yang anda pelihara, terutama pada saat fase larva hingga benih ataupun untuk ikan hias anda karena memiliki kandungan nutrisi yang baik dan cenderung seimbang dan sangat bagus untuk pertumbuhan ikan.

Di dalam tubuh Cacing sutra terkandung kira-kira 57% protein dan 13% lemak, yang oleh karena itu merupakan pakan yang baik untuk ikan, tidak terkecuali ikan yang dipelihara manusia seperti lele atau ikan hias.

Cacing sutra biasanya diperoleh dengan cara menambang/mengambilnya dari sungai. Kegiatan penambangan ada yang dilakukan dengan cara menyelam. Apabila seorang penyelam menemukan koloni cacing sutera di dasar sungai, maka koloni cacing tersebut akan ditambang  (diangkat) dari dasar sungai. Namun apabila penyelam tidak menemukan koloni cacing sutera di dasar sungai yang diselami, maka dia akan berpindah ke lokasi lain, yang jaraknya bisa beberapa kilometer dari lokasi semula.

Kegiatan penyelaman/pengambilan cacing tersebut dilakoni karena nilai ekonomi Cacing sutra yang cukup menjanjikan. Harga Cacing sutra berkisar antara Rp. 5. 000,00 sampai Rp. 7.000,00 per satu kaleng kecil (250 ml/kaleng susu).


Kini banyak upaya yang dilakukan untuk mengembangkan budidaya Cacing sutra di daratan. Dengan budidaya tersebut diharapkan mempermudah pengguna Cacing sutra, setidaknya tidak perlu lagi menyelam ke dasar sungai yang pekat yang dalamnya mencapai 7 m bahkan lebih.

Pengembangan budidaya Cacing sutra saat ini sudah banyak dilakukan. Teknik budidaya cacing sutera secara umum dapat dilakukan pada media lumpur yang dicampur dengan kotaran ayam dan bekatul. Bibit Cacing sutra yang diperoleh dari alam ditanamkan ke dalam media tersebut setelah dikarantina terlebih dahulu untuk menghilangkan bakteri patogen yang dibawa dari habitat asalnya. Sebelum ditanami cacing sutra, media difermentasi terlebih dahulu dengan direndam air selama lebih kurang 3 hari. Selama proses budidaya, media dialiri air dengan debit sekitar 3 liter per detik. Panen cacing sutra dapat dilakukan seminggu sampai dua minggu setelah ditanam. Jika dibiarkan terlalu lama, maka jumlah cacing sutra akan berkurang kembali, karena secara alami terjadi persaingan antar-cacing itu sendiri.

Hasil produksi dari budidaya Cacing sutra mencapai dua kali lebih banyak dibandingkan di habitat aslinya. Apabila budidaya dilakukan di pinggir sungai, maka produksi akan lebih banyak lagi. Dengan demikian budidaya cacing sutra yang sudah mulai diperkenalkan saat ini bisa meningkatkan penghasilan, mengingat permintaan Cacing sutra masih cukup tinggi.

Apabila  hasil budidaya Cacing sutra kita mencapai 200 kaleng per minggu. Kalau harganya Rp. 5000,00 per kaleng, maka penghasilan kita bisa mencapai Rp. 1 juta per minggu. Jumlah penghasilan yang tidak bisa dikatakan kecil untuk ukuran masyarakat saat ini. (jual cacing sutra)

Read More »